Total Tayangan Halaman

Minggu, 05 Februari 2012

MEMAHAMI DAN MEMAPARKAN SEJUMLAH HADITS TENTANG UNSUR GURU DALAM PENDIDIKAN DAN FUNGSINYA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

Guru adalah subjek  paling penting dalam keberlangsungan pendidikan. Tanpa guru, sulit dibayangkan bagaimana pendidikan dapat berjalan. Bahkan meskipun ada teori yang mengatakan bahwa keberadaan orang/manusia sebagai guru akan berpotensi menghambat perkembangan peserta didik, tetapi keberadaan orang sebagai guru tetap tidak mungkin dinafikan sama sekali dari proses pendidikan.
Realitasnya, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari peran guru. Secara umum, guru bisa siapa saja. Justru guru yang pertama kali dijumpai oleh setiap orang adalah orang-tuanya sendiri. Baru kemudian, guru  pada pendidikan formal. Di tengah masyarakat, pimpinan masyarakat juga dapat berfungsi sebagai pendidik untuk masyarakatnya. Dalam pengertian yang luas seperti ini, maka siapa saja yang melakukan pekerjaan berupa proses transper pengetahuan dan internalisasi nilai kepada peserta didik, maka dapat disebut sebagai guru.
Makalah ini akan menyoroti unsur guru (pendidik) dalam perspektif Al-Hadits. Namun, untuk menyajikan pembahasan yang utuh, maka penulis akan menjelaskan beberapa poin penting yang sepatutnya dimiliki dalam diri seorang guru (pendidik) yang akan di bahas dalam bab berikut ini.
BAB II
PEMBAHASAN
 2.1 Guru sebagai ulama pewaris Nabi dan pennganti Nabi
Dalam syairnya, Ahmad Syauqi sebagaimana dikutip oleh Muhammad Munir Mursi mengatakan bahwa pada diri guru ada kemuliaan. Hampir saja guru itu mendekati kerasulan.
Secara institusional, guru memegang peranan yang cukup penting, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Dengan demikian, guru juga berperan melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum.

Dalam Islam, istilah pendidik disebut dengan beberapa istilah seperti muaddib, murabbi dan mu’allim. Walaupun ketiga istilah itu masih terbedakan karena masing-masing memiliki konotasi dan penekanan makna yang agak berbeda, namun dalam sejarah pendidikan Islam ketiganya selalu digunakan secara bergantian. Pertanyaan yang menggelitik kemudian, siapakah pendidik itu?
Dalam sebuah hadis tersebut bahwa Nabi bersabda:
أدبنى ربى فأحسن تأديبى
 “Tuhanku telah mendidikku, maka menjadi baiklah pendidikanku”.

Dalam penggalan hadis ini, maka nyatalah bahwa Allah SWT adalah Pendidik Agung bagi para Nabi dan seluruh alam semesta. Dja’far Siddik mengatakan, “Dialah Muaddib Agung, dan Dia pulalah Murabbi Agung yang telah mendidik para Nabi dan Rasul-Nya. Dia juga Mu’allim Agung yang telah membelajarkan Adam as, nenek moyang umat manusia tentang segala sesuatu.”
Dalam penggalan hadis ini, maka nyatalah bahwa Allah SWT adalah Pendidik Agung bagi para Nabi dan seluruh alam semesta. Dja’far Siddik mengatakan, “Dialah Muaddib Agung, dan Dia pulalah Murabbi Agung yang telah mendidik para Nabi dan Rasul-Nya. Dia juga Mu’allim Agung yang telah membelajarkan Adam as, nenek moyang umat manusia tentang segala sesuatu.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka Allah pulalah sesungguhnya pendidik agung manusia. Hanya saja dalam operasionalnya, Allah Swt tidaklah berinteraksi secara langsung dengan manusia. Dia mengutus para Rasul untuk mendidik manusia ke jalan yang diridai-Nya. Dengan demikian, para Rasul pulalah yang mengambil peranan sebagai pendidik bagi umat manusia.

Dalam unit kehidupan sosial terkecil yakni keluarga, orang tua menjadi pendidik utama bagi anak dan keluarganya. Dalam surat at-Tahrim/66 ayat 6 Allah SWT mewajibkan setiap orang untuk mendidik dan memelihara diri pribadinya dan sekaligus membimbing keluarganya agar tidak tergelincir ke dalam api neraka.

Dalam kehidupan sosial yang lebih luas, yang berperan sebagai pendidik adalah terutama para ‘ulama dan ahl al-zikr. Namun dalam konteks pendidikan yang lebih luas, maka pada diri setiap orang sesungguhnya melekat kewajiban untuk mendidik. Hanya saja ulama dan ahl zikir secara khusus diberi amanah sebagai pendidik.
 Nabi Saw bersabda:
 العلماء ورثة الانبياء
Ulama adalah pewaris para Nabi.
Berdasarkan penekanan khusus kepada para ulama dan ahl al-zikr tersebut, maka tidak mengherankan jika para pakar pendidikan Islam menetapkan syarat-syarat yang cukup ketat sebagai kriteria yang seyogianya dimiliki oleh pendidik. Criteria dimaksud seperti khasyyah, istiqamah, sabar, berilmu, cerdas dan terampil, penyantun, dan berbagai sifat terpuji lainnya yang menunjukkan kemuliaan dan beratnya beban tugas seorang pendidik.
Selain itu, para ahli didik Muslim merumuskan berbagai pedoman lain yang menyangkut dengan sifat, sikap dan perbuatan yang harus dimiliki dan dilakukan oleh seorang pendidik Muslim. An-Nahlawi misalnya mengemukakan sepuluh pedoman pokok pendidik Muslim, yaitu:
a.       Mempunyai watak dan sifat rabbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
b.      Bersifat ikhlas, yakni sebagai orang berilmu dan profesi pendidik, ia hanya mencari keridaan Allah dan menegakkan kebenaran.
c.       Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan.
d.      Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.
e.      Senantiasa membekali diri dengan ilmu dan kesediaan diri untuk terus mengkajinya.
f.       Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaan metode.
g.      Mampu mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak dan professional.
h.       Mengetahui kehidupan psikis peserta didik.
i.        Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola pikir peserta didik.
j.        Bersikap adil terhadap para pelajar.
Dalam pelaksanaan tugas keguruan terutama dalam pembelajaran, menurut Mulyasa, guru harus kreatif, professional, dan menyenangkan dengan memposisikan diri sebagai berikut:
1.      Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2.      Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3.      Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya.
4.      Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5.      Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6.      Membiaskan peserta didik untuk saling berhubungan (bersilaturrahmi) dengan orang lain secara wajar.
7.      Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antarpeserta didik, orang lain dan lingkungannya.
8.      Mengembangkan kreativitas.
9.      Menjadi pembantu ketika diperlukan.
2.1.1 Ayat-ayat al-Quran yang memiliki kosa kata yang mengandung makna guru     (pendidik).

Ayat-ayat ini akan penulis susun secara kronologis dengan memperhatikan nomor surat, begitu juga aspek makkiyah dan madaniyah. Kronologi ini disusun berdasarkan mushaf Usmani.
Lebih ringkas ayat-ayat dimaksud sebagaimana ditunjukkan pada table berikut:
No
Kosa kata
Nama/nomor surat
dan nomor ayat
Kelompok ayat
1
Ahl az-Zikr
An-Nahl/16: 43
Makkiyah
2
Mubasysyir wa nazir
Al-Isra`/17: 105
Makkiyah


Al-Furqan/25: 57
Makkiyah
3
Ulama`
As-Syu’ara`/26: 197
Makkiyah


Fathir/35: 28
Makkiyah
4
Al-Muwa’iz
As-Syu’ara`/26: 136
Makkiyah


Luqman/31: 13
Makkiyah


Al-Baqarah/2: 231
Madaniyah


An-Nisa`/4   :63
Madaniyah
5
Uli al-Nuha
Taha/20: 54, 128
Makkiyah
6
Mu’allim
Al-Baqarah/2: 31,129, 151
Madaniyah


Ar-Rahman/55:2,4
Makkiyah
7
Murabbi
Ali Imran/3: 79
Madaniyah
8
Al-muzakki
Al-Baqarah/2: 129
Madaniyah


Al-Baqarah/2: 151
Madaniyah


Al-Baqarah/2: 174
Madaniyah


Al-Jumu’ah/62: 2
Madaniyah
9
Al-rasikhuna fi al-‘ilmi
Ali Imran/3: 7
Madaniyah


An-Nisa`/4: 162
Madaniyah
10
Ulul albab
Ali Imran/3: 190
Madaniyah
11
Faqih
At-Taubah/9: 122
Madaniyah
12
Da’i
An-Nahl/16: 125
Makkiyah


Yusuf/12: 108
Madaniyah
13
Uli al-Absar
Al-Hasyr/59: 2
Madaniyah

Dengan memperhatikan tabel di atas, maka susunan kosa kata yang bermakna pendidik (guru) dari yang pertama sampai yang terakhir di dalam al-Quran adalah: ahl al-zikr, mubassyir wa nazir, ‘ulama, al-muwaiz, uli al-nuha, mu’allim,  al-muzakki, murabbi, al-rasikhuna fi al-‘ilm,  ulul  albab, faqih, da’i dan uli al-absar .
Kosa kata yang secara eksplisit mengandung makna melakukan tugas mendidik adalah mubasysyir wa nazir, muwaiz, mu’allim, murabbi, muzakki, dan da’i.Sementara kosa kata lainnya yang mengandung makna keunggulan atau kualitas personal atau kompetensi yang dimiliki seorang pendidik adalah ahl al-zikr, ‘ulama, uli al-nuha, al-rasikhuna fi al-‘ilm, ulul albab, faqih, dan ulil al-absar..
Berdasarkan penelitian terhadap ayat-ayat yang memiliki makna yang jelas (sarīh) tentang pekerjaan mendidik adalah mubasysyir wa nazir, al-muwa’iz, mu’allim, murabbi, muzakki, dan da’i. Jika ayat-ayat yang mengandung kosa kata tersebut dilihat dalam konteks pendidikan, maka seorang pendidik adalah orang yang mendidik dan mengajar orang lain untuk memanusiakan manusia (mensucikannya) dengan menginternalisasikan nilai-nilai kepada kepribadian peserta didik terutama nilai-nilai tauhid, akhlak, ibadah dan mengajarkan pengetahuan tentang berbagai hal. Sehingga dengan ilmu pengetahuan seperti itu peserta didik akan terbimbing kepada jalan Tuhan. Bimbingan tersebut dilaksanakan dengan hikmah, mauizah dan jidal al-ahsan.. Sementara pengetahuan yang dibimbingkan itu jika dikelompokkan dapat berbentuk pengetahuan tentang ayat-ayat tanzili dan pengetahuan tentang ayat-ayat kauni.

2.2 Guru sebagai model panutan uswatun hasanah
Perhatikan anak-anak kita, ia selalu memiliki kecenderungan untuk meniru. Tidak heran ketika ada tayangan TV yang begitu menarik, dalam waktu singkat sudah bisa ditiru. Misalnya saja tayangan film naruto, dora, spongbob, dll. anak-anak yang baru berusia dua tahun sudah minta baju, tas sesuai dengan apa yang dilihat di TV. Mereka ingin meniru gaya jagoan yang disukai..
Itulah memang dunia anak, dunia bermain dan dunia meniru. Apa yang ada di sekelilingnya akan ditiru habis-habisan. Anak-anak kita belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Anak-anak kita ingin selalu menjadi bintang yang dilihat di TV.
Ketika melihat sesuatu yang ditiru oleh anak itu positif, maka perlu terus dipompa sehingga apa yang menjadi keinginan anak bisa tercapai. Misalnya saja si anak ingin menjadi dai cilik sebagaimana yang diidolakan di TV. Mungkin saja anak ingin menjadi penyanyi cilik sebagaimana Debo yang menjadi penyanyi melalui kontes idola cilik. Namun ketika anak sudah mulai berperilaku dengan menyontoh yang negatif, maka segeralah untuk diperbaiki.
Adi W Gunawan di dalam buku, ”Manage Your Mind For Success” menjelaskan tentang tahap pemrograman anak-anak kita. Fase pertama adalah usia 0-7, fase ini disebut fase tanam. Apapun yang dilihat, yang didengar, yang dikatakan orang pada anak kita sangat mudah untuk diterima anak. Anak belum mempunyai filter (saringan) untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Usia-usia ini lebih banyak menerima dan disimpan dalam memori jangka panjang. Sepenuhnya apa yang diterima masuk ke pikiran bawah sadar. Tahun ini sangat penting dalam pembentukan anak. Orang tua sangat berperan, begitu juga jika di sekolah, guru TK memiliki peran yang cukup besar.
Fase kedua adalah usi 7-14 tahun yang disebut fase model. Pada usia ini anak-anak selalu ingin meniru tokoh yang dikagumi. Usia ini mulai memasuki pendidikan formal di SD sampai SMP atau pendidikan dasar. Masa ini merupakan m asa-masa penting bagi anak untuk membentuk kepribadinnya. Anak akan menjadi hebat, sukses, dan mulia jika yang ditiru adalah hal-hal yang positif. Sebaliknya, anak bisa salah melangkah jika apa yang dilihat dan dijadikan model itu salah, contoh-contoh negatif. Peran guru di sekolah sangat berpengaruh.
Fase ketiga adalah usia 14-21 tahun, yang disebut fase sosial. Pada fase ketiga ini anak-anak cenderung melakukan interaksi sosial. Mereka lebih senang melakukan pertemanan. Fase ketiga banyak ditentukan oleh fase pertama dan kedua. Jika fase tanam dan model yang didapatkan melalui pengalaman itu positif, maka dalam fase sosial akan mengalami interaksi yang positif. Sebaliknya, jika pengalaman pada fase pertama dan kedua negatif, maka dalam interaksi sosial pun akan negatif.
Sekolah sebenarnya bisa dijadikan satu kekuatan untuk melakukan perbaikan. Sekolah seharusnya bisa berfungsi sebagi filter pembentuk perilaku positif bagi anak. Mungkin pada saat masa tanam terjadi konsep yang salah pada orang tua. Maka sekolah bisa untuk mengubahnya.
Guru sebagaimana orang tua sudah seharusnya bisa menjadi panutan bagi anak-anak. Perilaku keseharian bisa menjadi tauladan bagi anak-anak didik. Guru bisa menjadi figur sentral dalam pembentukan kepribadian anak.
Jujur, saat ini banyak anak kehilangan figur sentral. Banyak anak yang lebih cenderung untuk menjadikan tontonan sebagai model. Bisa saja hal ini terjadi karena orang tua yang mestinya bisa sebagai model jarang ditemui karena sibuk. Sehingga anak-anak mencari figur lainnya. Misalnya saja model itu bisa ditemukan pada diri pembantu, pada tokoh sinetron yang dikagumi, atau mungkin sahabatnya yang dijadikan figur.
Di sinilah guru dituntut untuk menjadi model. Berikan yang terbaik buat anak-anak kita. Banyak anak-anak yang sukses karena melihat figur gurunya yang bersahaja, tegas, dan berwibawa.
Anak-anak adalah mata rantai pewaris perjuangan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran. Anak-anak adalah pengawal negeri tercinta. Dialah yang akan menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang telah dibangun dengan susah payah.
Dalam proses transfering values and knowladge guru senantiasa mengajar dan berkomunikasi. Guru tidak bisa meninggalkan nilai-nilai dalam mendidik putra-putrinya. Sekali lagi, sebagai agen perubahan, guru bukan hanya transfer knowledge, tetapi transfer nilai-nilai. Hal-hal yang tidak baik segera diganti dengan nilai-nilai yang baik.
Berbagai teori telah menyebutkan bahwa apa yang sudah diterima anak di masa tanam akan masuk dalam memori jangka panjang atau tersimpan pada alam bawah sadar. Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa, tidak boleh hawatir untuk melakukan perubahan. Masa model bisa untuk memperbaiki kondisi yang pernah terjadi di masa tanam.
Di sinilah peran guru sebagai agen perubahan. Guru berperan sebagi model yang bisa diteladani oleh anak-anak. Banyak model yang dilihat oleh anak-anak di luar sekolah. Namun di sekolahlah yang diharapkan model itu bisa ditemukan oleh anak. Sekolah setidaknya mampu menjadi filter terhadap pengaruh yang terjadi di luar rumah.
2.3 Guru sebagai tokoh dan anggota masyarakat
Sama halnya dengan poin sebelumnya, dimana pada poin ini  seorang pendidik atau guru juga berperan sebagai tokoh masyarakat . Disini seorang guru dituntut untuk menjadi seorang panutan tidak hanya di lingkungan formal seperti sekolah tapi juga dalam arti yang lebih luas, dimana seorang pendidik harus memberikan sikap teladan yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat lain.  Seperti yang telah di paparkan oleh An-Nahlawi dalam poin pertama mengenai 10 pedoman pokok bagi para pendidik muslim.
2.4 Guru sebagai tenaga pendidikan yang professional
Telah disyaratkan dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa untuk dapat memangku jabatan guru, minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1. Namun dalam kenyataannya saat ini kualifikasi pendidikan guru di Indonesia memang masih beragam. Dalam hal ini, Conny Semiawan (Sudarwan Danim, 2002), memilah keberadaan tenaga guru di Indonesia ke dalam tiga jenis secara hierarkis, yaitu :
1.      Guru sebagai tenaga profesional, yang berkualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya S1 (atau yang setara), memiliki wewenang penuh dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengendalian pendidikan/ pembelajaran.
2.      Guru sebagai tenaga semi profesional, yang berkualifikasi pendidikan D3 (atau yang setara) yang telah berwenang mengajar secara mandiri tetapi masih harus melakukan konsultasi dengan tenaga kependidikan yang lebih tinggi jenjang profesionalnya, baik dalam hal perencanaan pelaksanaan, penilaian dan pengendalian pendidikan/ pembelajaran.
3.      Guru sebagai tenaga paraprofesional, yang berkualifikasi pendidikan tenaga kependidikan D2 ke bawah, yang memerlukan pembinaan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengendalian/ pembelajaran.
Sementara itu, dalam praktik pembelajaran pun tampaknya masih terjadi keragaman. Dengan mengadopsi pemikiran Prayitno (2005) tentang lima tingkatan praktik dalam konseling, di bawah ini dijelaskan secara singkat tentang lima tingkatan praktik pembelajaran, sebagai berikut:
1. Tingkat pembelajaran pragmatik.
Tingkat pembelajaran pragmatik yaitu pembelajaran yang diselenggarakan guru dengan menggunakan cara-cara yang menurut pengalaman guru pada waktu terdahulu dianggap memberikan hasil yang optimal, meskipun cara-cara tersebut sama sekali tidak berdasarkan pada teori tertentu.
2.Tingkat pembelajaran dogmatik
Pada tingkat pembelajaran dogmatik, praktik pembelajaran yang dilakukan guru telah menggunakan pendekatan berdasarkan teori tertentu, namun pendekatan tersebut dijadikan dogma untuk segenap kepentingan proses pembelajaran siswa.
3. Tingkat pembelajaran sinkretik
Pada tingkat pembelajaran sinkretik, pembelajaran yang diselenggarakan guru telah menggunakan sejumlah pendekatan pembelajaran, namun penggunaan pendekatan tersebut bercampur aduk tanpa sistematika ataupun pertimbangan yang matang. Pendekatan-pendekatan tersebut sekedar dicomot dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran tanpa memperhatikan relevansi dan ketepatannya.
4. Tingkat pembelajaran eklektik
Dalam penyelenggaraan pembelajaran eklektik, guru telah memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai pendekatan pembelajaran dengan berbagai teknologinya, dan berusaha memilih serta menerapkan sebagian atau satu kesatuan pendekatan beserta teknologinya sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan belajaran siswa. Pendeketan-pendekatan tersebut tidak dicampur aduk, namun dipilah-pilah, masing-masing diplih secara cermat untuk kepentingan pembelajaran siswa. Penyelenggaraan pembelajaran eklektif tidak mengangungkan atau menjadikan suatu pendekatan pembelajaran tertentu sebagai dogma. Dengan demikian, dalam penyelenggaraan pembelajaran eklektif, guru mengetahui kapan menggunakan atau tidak menggunakan pendekatan pembelajaran tertentu.
5. Tingkat pembelajaran mempribadi
Tingkat pembelajaran yang mempribadi mempunyai ciri-ciri : (1) penguasaan yang mendalam terhadap sejumlah pendekatan pembelajaran beserta teknologinya, (2) kemampuan memilih dan menerapkan secara tepat pendekatan berserta teknologinya untuk kepentingan pembelajaran siswa, dan (3) pemberian warna pribadi yang khas sehingga tercipta praktik pembelajaran yang benar-benar ilmiah, efektif, produktif, dan unik.

BAB III
KESIMPULAN
Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator.

Guru adalah seorang pendidik yang mulia, subjek  paling penting dalam keberlangsungan pendidikan. Sebagaimana dikutip oleh Muhammad Munir Mursi dari Ahmad Syauqi  mengatakan bahwa pada diri guru ada kemuliaan. Hampir saja guru itu mendekati kerasulan.
Peran guru demikian penting dan menentukan. Ia melakukan cetak biru generasi muda. Oleh karena itu, jika guru tidak memenuhi syarat-syarat kualitas dan kuantitas yang ideal, maka akan berakibat terhadap perkembangan intelektual, emosional, sosial dan kinestetis peserta didik.


1 komentar: